Dasar K3 Bagi Pekerja Konstruksi

K3 merupakan singkatan dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit dilingkungan kerja.

Meskipun umumnya kecelakaan kerja seringkali disebabkan sikap dan perilaku pekerja yang sering mengabaikan faktor keamanan dilingkungan kerja. Sebagai contoh misalnya tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai, tidak mengikuti prosedur kerja yang telah ditetap, tidak mematuhi peraturan kerja yang sudah ditetapkan, tidak berhati-hati, serta kondisi fisik yang lemah namun tetap memaksakan untuk bekerja.

Oleh karena itu K3 sangat perlu untuk diterapkan dilingkungan proyek konstruksi dengan tujuan untuk kelancaran pelaksanaan kerja baik bagi pekerja maupun lingkungan sekitarnya. Seperti yang telah tercatat pada UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Tenaga Kerja yang mengatur keselamatan kerja disegala tempat baik itu di darat, laut dan udara dalam wilayah NKRI dengan tujuan:
✔️ Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja.
✔️ Mencegah, mengurangi dan memandamkan kebakaran.
✔️ Mencegah dan mengurahi bahaya peledakan.
✔️ Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya.
✔️ Memberi pertolongan pada kecelakaan.
✔️ Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja.
✔️ Mencegah dan mengendalikan timbul atau meyebar luasnya suhu, kelembapan, debu, kotoran, asap, gas, uap, hembudan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran.
✔️ Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun psikis, keracunan, infeksi, dan penularan.
✔️ Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.
✔️ Menyelenggarakan suhu dan kelembaban udara yang baik.
✔️ Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup.
✔️ Memelihara kebersihan, kesehatan, dan ketertipan.
✔️ Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya.
✔️ Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau barang.
✔️ Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
✔️ Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.
✔️ Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

Adapun klasifikasi kecelakaan yang dimaksud meliputi:
✔️ Insiden tanpa kerusakan tidak ada yang cidera.
✔️ Insiden diikuti kerusakan tidak ada yang cidera.
✔️ Kecelakaan berakibat luka ringan.
✔️ Kecelakaan berakibat luka berat.
✔️ Kecelakaan Berakibat Cacat tetap.
✔️ Kecelakaan berakibat Kematian.

Undang-undang keselamatan kerja berisi petunjuk teknis mengenai apa yang harus dilakukan oleh dan kepada pekerja untuk menjamin keselamatan pekeja itu sendiri, keselamatan umum dan produk yang dihasilkan karena begitu banyak proses yang dilakukan dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan perubahan resiko pekerjaan yang dihadapi pekerja di tempat kerjanya.